Sehat dan Ekonomis! Inilah Pembalut Dari Bahan Dasar Serat Pisang

http://ift.tt/1w8asCp

<!– BEGIN JS TAG – Suaranews.com NEWS INDO Display Rev Share

Penggunaan pembalut sudah muncul sejak abad ke-10. Sepanjang sejarah, wanita menggunakan berbagai macam benda untuk celemek menstruasi. Orang Inuit (Eskimo) memakai kulit kelinci. Sementara di Uganda memkai papirus. Cara lain yang cukup umum adalah dengan menggunakan potongan kain bekas.

Di Rwanda, serabut pohon pisang dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat pembalut wanita. Inovasi ini dilakukan oleh Elizabeth Scharpf, alumni Universitas Harvard. Elizabeth mempelajari fenomena di lingkungan pekerja pabrik di Mozambik dirinya masih bekerja di Bank Dunia.

Elizabeth mendapati fakta bahwa 20 persen pekerja wanita di pabrik tersebut tidak masuk kerja secara rutin hingga 30 hari dalam setahun akibat tidak mampu membeli pembalut saat menstruasi.

Tahun 2009, dia mendirikan Sustainable Health Enterprises (SHE) pada tahun 2009. Head of Business Operations SHE Rwanda, Yvonne Krywyj menjelaskan, Elizabeth yang memiliki latar belakang pendidikan teknologi lingkungan itu kemudian mencari material lokal yang memiliki daya serap tinggi untuk dijadikan bahan dasar pembalut.

“Dicoba (bahan dasar dari) mangga, daun pisang juga serat pohon pisang, hanya itu yang saya ingat. Mereka mendapati serat pohon pisang adalah yang terbaik dan mereka mulai bekerja dengan 2 petani wanita untuk mengekstraksi serat pohon pisang. Serat itu juga dihasilkan dari batang pohon pisang, sehingga tidak mubazir dibakar sebagai sampah,” kata Yvonne dikutip merdeka.com, Rabu (22/4/2015).

sumber; uniqpost