Waaah.. Ternyata Pengasapan Dapat Atasi Hama Lalat Buah Pada Tomat Looo!

http://ift.tt/1w8asCp

<!– BEGIN JS TAG – Suaranews.com NEWS INDO Display Rev Share

Serangan hama lalat buah membuat petani tomat di Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, sejak dua minggu belakangan resah. Pasalnya, serangan hama bisa mengurangi hasil produksi bahkan menyebabkan kematian tanaman.

Sardiman Sinaga, petani tomat di Purba Sipinggan kepada awak media ini mengatakan, lalat buah merupakan serangga perusak banyak menyerang buah-buahan dan sayuran seperti mangga, belimbing, cabai, tomat dan lainnya.

Untuk itu, pengendalian hama merupakan salah satu faktor penting dalam usaha budidaya tomat. “Bingung juga mengatasinya, Lae. Di musim hujan seperti ini, banyak penyakit yang menyerang tanaman tomat,” ucapnya.

Selain hama lalat buah, berbagai jenis penyakit juga menyerang tanaman tomat, seperti busuk buah, daun dan hawar daun (penyakit disebabkan jamur). Sementara untuk mengendalikan hama dan penyakit ini, Sardiman mengaku belum mengetahuinya. “Belum ada insektisida yang ampuh menangani serangan lalat buah ini. Kita juga bingung mengatasi hama ini,” kata pria berkulit sawo matang itu.

Untuk sementara, pihaknya hanya menggunakan perekat. Sebab, pemakaian lem glukol perekat berpotensi mengundang lalat dari luar areal lahan pertanian, karena memiliki ketajaman aroma. Terpisah, salah seorang penyuluh swadaya Purba Sipinggan S Purba mengimbau seluruh petani tomat tidak perlu khawatir. Sebab, hama tersebut bisa diatasi dengan berbagai cara.

Pertama, sanitasi lingkungan. Artinya, seluruh buah yang terkena lalat buah jangan dibiarkan berserakan di lahan, tetapi dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam wadah kedap udara seperti plastik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi perkembangbiakan telur yang sudah ditanamkan induk di dalam buah tomat.

Kedua, pemagaran lokasi dengan plastik atau jaring nyamuk setinggi 1-2 meter. Hal ini diyakini mampu mengurangi serangan, karena sebagian besar lalat buah hanya mampu bebas terbang di ketinggian 0,5 meter sampai 1,5 meter.

Ketiga, dengan pengasapan. Lalat buah pada umumnya tidak mampu bernafas bebas dalam kondisi berasap dan akan menghindari lokasi kepul asap.

“Hal ini semakin mujarap apabila asap dibantu dengan pembakaran bahan berbau menyengat, seperti belerang dan bekas kangkang telur,” jelasnya.

Keempat, lanjutnya, hama lalat buah bisa diatasi dengan penyemprotan insektisida berbau menyengat, seperti insek berbahan aktif Abamektin 60 gr/ltr dan dicampur dengan berbahan aktif asefat 75 persen.

“Pemakain insektisida ini dianjurkam tidak monoton, harus diganti-ganti dengan berbahan sipermetrin. Pemakaian zat ini diperkirakan mampu memandulkan telur yang disuntikkan induk ke dalam buah, dan memandulkan induk betina,” terangnya.

Meski begitu, dia berharap pemerintah membantu mengatasi masalah yang kini dihadapi petani.
“Alangkah bagusnya kalau Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) turun ke lapangan, agar petani bisa lega. Apalagi, beberapa tahun belakangan ini, kebanyakan petani tidak mengenal PPL, bahkan mereka bingung apa tugas dan fungsi seorang PPL,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Simalungun Ir Janposman Purba saat dimintai komentarnya mengenai kondisi ini mengatakan, serangan lalat buah solusi yang ampuh yakni penggunaan musuh hayati.
“Pemasangan likat kuning bisa mengatasinya, tetapi dengan pemasangan serempak oleh seluruh petani agar dapat dihentikan. Untuk memastikan hal ini, kita akan turun langsung ke lokasi guna memastikan agar bisa diberikan pestisida yang tepat,” jelasnya.

Sedangkan mengenai keadaan di pasar, pihaknya tidak dapat memastikan apakah hal ini mempengaruhi harga di pasar atau tidak. Karena, pasokan bukan hanya dari Simalungun. Selain itu, permasalahan harga bisa saja permainan pasar. “Yang jelas, produksi berkurang, tetapi untuk mengetahui keadaan pastinya itu berada di pihak pemasaran, karena dari daerah lain juga menjadi pemasok,” jelasnya.

Dari berbagai sumber yang dikutip METRO, penelitian menunjukkan terdapat lebih kurang 4.500 spesies lalat buah di seluruh dunia yang berasal dari famili Tephritidae yang menjadi perusak tanaman. Namun begitu, dari jumlah tersebut, terdapat 20 spesies dari gen Bactrocera adalah merupakan perusak utama pada buah-buahan dan sayuran di Asia.

Lalat buah bersimbiosis mutualisme dengan bakteria, karena apa bila lalat buah meletakkan telur pada buah, biasanya akan turut disertai dengan bakteri akan memungkinkan pembentukan ulat pada bagian yang terkena serangan yang akhirnya akan meyebabkan buah menjadi busuk. Sebagian buah dan daun yang terkena serangan lalat buah ini akan menjadi berulat dan busuk.

Seekor lalat betina mampu meletakkan telur pada buah sebanyak 1-10 butir dalam sehari, ia mampu meletakkan telur hingga 40 butir. Telur kemudian menetas menjadi ulat dan akan merusak buah dan daun. Sepanjang hidupnya, seekor lalat betina mampu bertelur sampai 800 butir.

Pengendalian lalat buah begitu sulit meski dengan penggunaan racun serangga karena ciri-ciri fisikalnya besar. Malahan penggunaan racun insektisida untuk melindungi buah dan sayuran seringkali tidak mendatangkan hasil yang diharapkan.

Oleh karena itu, satu cara memerangi serangan lalat buah ini adalah dengan mengurangi populasinya dan menghapuskan popolusi lalat buah di kawasan kebun atau tanaman.

Cara yang terbaik dan efektif adalah dengan menghapus “lalat buah jantan”. Ini akan menyebabkan persenyawaan baru tidak akan terjadi diantara lalat jantan dan lalat betina yang menghasilkan telur, seterusnya larva dan anak lalat buah.

Sejauh ini, lalat buah termasuk hama yang sulit dikendalikan. Beberapa teknik pengendalian baik secara tradisioanal maupun modern telah banyak diaplikasikan, namun hasilnya belum optimal. Walaupun demikian, usaha-usaha pengendalian tetap harus kita upayakan sebisa mungkin agar dampak dari serangan tidak terlalu merugikan.

Beberapa cara pengendalian hama lalat buah yang bisa diupayakan di antaranya; hal pertama adalah melalui penetapan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yakni peraturan karantina antar area/wilayah/negara untuk tidak memasukkan buah yang terserang dari daerah endemis. Sebagai contoh, pemerintah melarang impor buah-buahan dan sayuran dari negara di mana merupakan daerah endemis lalat buah.

Pemeliharaan Tanah. Artinya, memelihara tanaman dengan baik di antaranya melakukan mengolah dan merawat tanah secara berkala. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon dapat menyebabkan pupa lalat buah yang terdapat di dalam tanah terkena sinar matahari dan akhirnya mati.

Sanitasi yang baik. Sebab, kebersihan lahan menentukan tingkat serangan lalat buah. Tujuan dari sanitasi (memberishkan) kebun adalah memutus siklus perkembangan lalat buah. Lantai kebun harus terbebas dari buah-buah yang terserang lalat buah yang jatuh atau yang masih di pohon.

Buah yang berisi telur dan larva lalat buah dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan dibakar atau dibenamkan ke dalam tanah. Buah-buah yang gugur di bawah pohon berpeluang dijadikan tempat bertelur lalat buah.
Semak-semak dan gulma juga dapat digunakan lalat buah sebagai inang alternatif ketika tidak musim buah. Sanitasi kebun akan efektif jika dilakukan oleh seluruh petani secara serempak.

Selain itu, pengasapan di sekitar pohon dengan membakar serasah/jerami sampai menjadi bara yang cukup besar bisa pula mengusir lalat. Pengasapan dilakukan 3-4 hari sekali dimulai pada saat pembentukan buah dan diakhiri 1 –2 minggu sebelum panen.

Tujuan pengasapan adalah mengusir lalat buah dari kebun. Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai menjadi bara yang cukup besar.

Kemudian bara dimatikan dan di atas bara ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat mengusi lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar.

Namun, cara ini juga menjadi kurang efisien jika diterapkan di kebun yang luas. Cara ini hanya efisien jika diterapkan di pohon-pohon milik perseorangan yang jumlahnya terbatas atau tidak terlampau banyak. Kelemahan lain pada pengendalian pengasapan adalah sulitnya diterapkan pada komoditas sayuran seperti tomat.

Penggunaan tanaman perangkap juga bisa dilakukan. Penelitian mengenai preferensi lalat buah terhadap tanaman buah dan sayuran, ternyata yang paling disukai lalat buah.

Tanaman aromatik atau tanaman yang mampu mengeluarkan aroma, bisa juga digunakan untuk mengendalikan lalat buah. Di antaranya jenis selasih/kemangi (Ocimum) yaitu O minimum, O tenuiflorum, O sanctum dan lainnya.

Selain tanaman selasih ada juga tanaman kayu putih (Melaleuca bracteata) dan tanaman yang bersifat sinergis (meningkatkan efektifitas atraktan), seperti pala (Myristica fragans). Semua tanaman ini mengandung bahan aktif yang disukai lalat buah, yaitu Methyl eugenol, dengan kadar yang berbeda.

Dengan menanam salah satu tanaman tersebut disekitar lahan, maka diharapkan dapat mengurangi serangan lalat buah secara signifikan. Minyak kayu putih dan minyak selasih berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol yang cukup tinggi.

Sesuai dengan fungsinya sebagai atraktan, minyak tersebut hanya bersifat menarik lalat buah tetapi tidak membunuhnya. Jadi tujuan sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian lalat buah dari tanaman budidaya utama. Oleh karena itu, penggunaan minyak tersebut akan lebih optimal bila dilengkapi dengan alat yang dapat menjebak atau menangkap lalat buah.

Salah satu cara yang dianggap paling efektif, mudah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan lalat buah adalah penggunaan perangkap atraktan (pemikat) lalat buah. Cara ini dianggap aman karena tidak meninggalkan residu pada komoditas yang ditanam. Bahan pemikat ini biasanya ditempatkan di dalam perangkap berupa botol plastik atau tabung silinder sehingga lalat buah akan masuk dan terperangkap di dalam.

Atraktan dapat digunakan untuk tiga fungsi utama, yakni mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah di sekitar lahan budidaya. Menarik lalat buah kemudian membunuhnya dengan menggunakan perangkap.
Perangkap lalat buah itu sendiri bisa dibuat dari bahan sederhana, pada umumnya adalah bekas botol plastik minuman. Botol ini dimodifikasi sedemikian rupa dan diisi dengan zat pemikat lalat buah yaitu methyl eugenol. Zat pemikat atau atraktan ini bisa kita beli di toko-toko obat pertanian.

Walaupun begitu, kita pun bisa menggunakan bahan alami lainnya yang mudah diperoleh dan murah seperti ekstrak daun selasih/kemangi dan daun melaleuca. Bisa pula berupa cue lure atau umpan protein seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Jika mau, atraktan dapat dicampur dengan insektisida dan diteteskan pada kapas, namun hal ini tidak disarankan. Perangkap dipasang pada tiang atau ranting pohon setinggi 2-3 meter dari permukaan tanah. Untuk area lahan 1 hektar, dibutuhkan kurang lebih 16 buah perangkap. Dipasangkan terus menerus selama tanaman berbuah dan zat pemikat harus diisi ulang jika menunjukkan tidak lagi berfungsi.

Sumber: metrosiantar

Iklan