Perlahan Tapi Pasti, Jelang Ramadhan Kebutuhan Pokok Mulai Naik

http://ift.tt/1w8asCp

<!– BEGIN JS TAG – Suaranews.com NEWS INDO Display Rev Share

Hingga dua pekan menjelang bulan Ramadhan ini, sejumlah harga kebutuhan pokok belum juga mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Kendati begitu, dari pantauan Harianjogja.com di sejumlah pasar tradisional di Bantul, hanya beberapa komoditas saja yang mengalami kenaikan harga. Sebut saja misalnya komoditas sayur mayur. Untuk cabai rawit hijau dan merah, di beberapa pasar tradisional mengalami kenaikan harga hingga Rp3.000.

“Kalau di sini, harga cabai rawit merah mencapai Rp18.000,” ucap Slamet, sakah seorang pedagang di Pasar Niten, Selasa (3/6/2015) siang.

Ia menambahkan, kenaikan yang cukup signifikan juga dialami oleh komoditas bawang putih. Dikatakannya, komoditas bawang putih itu mengalami kenaikan sebesar Rp10.000 dari yang akhir bulab Mei lalu cuma Rp22.800 menjadi Rp32.000. Kenaikan juga tampak pada komoditas ayam kampung. Berbeda dengan komoditas bawang putih, kenaikan komoditas ayam kampung ini hanya berkisar Rp 7.000.

“Minggu lalu, harga ayam kampung cuma sekitar Rp20.300, sekarang bisa mencapai Rp27.000,” imbuhnya.

Kenaikan tersebut juga terjadi di pasar tradisional lainnya. Di Pasar Bantul misalnya. Karmilah, salah satu pedagang di pasar tersebut mengatakan, selain komoditas bawang putih dan cabai yang mengalami kenaikan, beberapa komoditas sayur mayur lainnya pun mengalami hal yang sama. Hanya saja kenaikannya tak sesignifikan komoditas bawang putih dan cabai tersebut.

“Untuk sayur jenis sawi, kol serta terung juga mengalami kenaikan namun hanya dalam kisaran Rp2.000 per kilogram,” katanya.

Sementara beberapa komoditas lainnya, ia mengaku tak mengalami beberapa fluktuasi yang cukup
berarti. Bahkan diakuinya harga beberapa komoditas cenderung stabil beberapa pekan terakhir.Dicontohkannya, gula pasir meningkat sekitar Rp1.000 dari Rp13.000 menjadi Rp14.000 per kilogram.

Begitu juga dengan beras kualitas IR 64, yang juga mengalami sedikit peningkatan, yakni berkisar Rp100-Rp200 saja.

“Yang cukup drastis peningkatannya itu justru telur, dari Rp18.500 menjadi Rp20.000 per kilogram,” akunya.

Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal (disperindagkop-PM) Bantul Sahadi Suparja membenarkan, kenaikan harga sembako hingga saat ini memang belum signifikan. Menurutnya, hal ini disebabkan masih rendahnya permintaan
masyarakat terhadap komoditas tersebut.

Di Bantul, lonjakan harga biasanya terjadi beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pasalnya, di hari itu, banyak warga pendatang dari luar Bantul yang datang dan menginap di Bantul.

“Bagaimanapun, Bantul adalah salah satu daerah yang banyak diserbu para pemudik. Inilah yang membuat lonjakan harga sembako,” ucapnya.

Sumber: harianjogja

Iklan