Elah… KPK Hanya ‘Kejar Tayang’ dan Asal Hantam

http://ift.tt/1w8asCp

ad_idzone = “1519790”;
ad_width = “468”;
ad_height = “60”;

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus memetik pelajaran berharga dari tiga kekalahan berturut-turut di persidangan praperadilan yang diajukan tiga orang yang ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus korupsi.

Rangkaian kekalahan ini menimbulkan kesan bahwa penyelidik dan penyidik KPK sembrono, asal hantam, dan hanya “kejar tayang” semata. Begitu dikatakan anggota Komisi III DPR RI dari PDI Perjuangan Masinton Pasaribu dalam perbincangan dengan redaksi.

Kekalahan pertama KPK dalam persidangan pra-peradilan yang diajukan Komjen Budi Gunawan, disusul kekalahan dari mantan walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan terakhir mantan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (KPK) Hadi Poernomo.

“Seyogyanya, karena KPK tidak mengenal  penghentian perkara seperti di Kepolisian dan Kejaksaan, untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka, penyidik KPK tidak cukup hanya mengandalkan dua alat bukti. Butuh minimal empat alat bukti kuat yang didahului dengan pemeriksaan saksi-saksi  dan calon tersangka,” ujar Masinton.

Dia juga mengatakan, sejauh ini KPK baru fokus pada upaya penindakan, bukan pencegahan praktik korupsi. Pemimpin baru KPK nanti diharapkan melakukan pembenahan serius dan mulai fokus pada upaya pencegahan korupsi.

“Ini lebih efektif. Bukankah dalam medis juga dikenal istilah lebih baik mencegah daripada mengobati?” tanya Masinton.

Fokus pada upaya pencegahan korupsi bukan berarti KPK meninggalkan upaya penindakan. Hanya saja, sambung Masinton, upaya penindakan haruslah difokuskan pada perkara-perkara yang berdampak langsung pada masyarakat.

Secara terpisah Kordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi mengatakan, daya serang KPK memang tumpul. KPK sejauh ini hanya berani menghadapi kasus-kasus tertentu yang tidak begitu besar, namun dikesankan besar dan dibikin sensasional.

Hal ini, sebut Adhie dalam perbincangan dengan redaksi, memang menjadi sifat alamiah KPK yang kelahirannya dibidani oleh kelompok neolib dan didukung lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia.
<!– BEGIN JS TAG – Suaranews.com NEWS INDO Display Rev Share

“Kita perlu melihat sejarah pembentukan KPK. Benar bahwa Indonesia membutuhkan lembaga pemberantas korupsi. Tetapi KPK yang kita miliki sekarang didisain oleh orang lain, dengan maksud lain,” kata Adhie.

Itulah sebabnya, menurut mantan jurubicara Presiden Abdurrahman Wahid ini, sejak awal pembentukan KPK hingga kini, lembaga itu dikuasai oleh tokoh  beraliran neolib dan atau dekat dengan kepentingan asing. Adhie menyebut nama Erry Riyana Hardjapamekas yang pernah memimpin KPK tetapi sampai sekarang terus terlibat mengawal KPK dan  juga ikut membidani kelahiran Pansel Pimpinan KPK yang terdiri dari sembilan wanita.

Maka tidak usah heran bila semua kasus yang melibatkan orang-orang dari kelompok ini, seperti Boediono, Sri Mulyani juga Agus Martowardojo dalam kasus Bank Century diamankan dan kandas,” kata Adhie lagi.

Adapun anggota Komisi XI DPR RI dari Partai Golkar, M. Misbakhun,  mengatakan, sebaik apapun sosok yang memimpin KPK tetapi apabila KPK masih dikuasai kelompok kepentingan ini, maka akan sia-sialah pembenahan yang ingin dilakukan.

Misbakhun juga mengatakan perlu gerakan politik yang massif untuk membongkar gerakan kelompok yang selama ini menyandera KPK untuk kepentingan mereka dan membuat KPK lumpuh di hadapan kasus-kasus raksasa.

ad_idzone = “1523222”;
ad_width = “300”;
ad_height = “50”;


sumber: rmolsulsel

Iklan