Malangnya Negeriku, Jokowi Sempurnakan Warisan Mega Jual Aset Indosat Dulu

http://ift.tt/1w8asCp

Pengamat politik dari Indostrategis Andar Nubowo mengatakan bahwa kerjasama penggarapan e-government yang dilakukan PT Telkom dengan SingTel sangatlah riskan terhadap keamanan nasional Indonesia.

“Itu sensitif sekali kerjasamanya. Menyangkut database administrasi dan pemerintahaan kita yang sifatnya rahasia. Apa tidak takut bocor? Atau memang disengaja ya, supaya Singapura bisa akses data dan rahasia-rahasia negeri kita,” kata Andra kepada TeropongSenayan di Jakarta, Kamis (18/6/2015).

Menurutnya, kerjasama tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan jauh sebelumnya oleh pendahulu pemerintahan saat ini.

“Ini konsekuensi penjualan aset Indosat zaman Mega (Megawati Soekarnoputri, red) dulu. Jokowi tampaknya makin menyempurnakannya,” terang dia.

Dikuinya, publik sangat menyesalkan kebijakan yang terkesan bahwa Indonesia tidak berdaya di hadapan negara lain.
<!– BEGIN JS TAG – Suaranews.com NEWS INDO Display Rev Share

“Kok pemerintah kita begitu mudah untuk menyerahkan hal-hal sensitif dan rahasia negeri ini pada pihak lain. Seakan-akan, sekarang ini, tidak ada lagi rahasia dan kedaulatan Republik yang perlu dijaga dengan darah dan nyawa,” tegas dia.

Oleh karenanya, ia mengingatkan pemerintah agar secepatnya menjelaskan kepada publik dibalik kerjasama tersebut. Sebab jika dibiarkan ini bisa menjadi skandal besar.

“Ini bisa jadi skandal besar jika diteruskan. Pemerintah Jokowi perlu menjelaskan dan mencabut kerja sama anti kedaulatan dan nasionalisme ini,” tandas dia.

Selain itu, kata dia, patut diduga adanya motif tertentu dalam kerjasama tersebut dan harus terus diawasi publik.

“Motifnya, saya kira lebih karena teknologi invormasi kita sudah dilego ke Singapura. Ingat zaman Bu Mega Presiden. Sekarang Jokowi dengan senang hati meneruskan warisan itu. Arus informasi sudah dikuasai negeri jiran, Kedua, saya kira alasan investasi e-governemnt yang mahal. Jadi butuh investor, Ketiga, pemerintah sekarang tampak tidak punya arah kebijakan pengembangan investasi yang nasionalistik, Syahwat neoliberalismenya kuat. Semua mau dikerjasamakan dengan asing,” paparnya, menandaskan.

ad_idzone = “1523222”;
ad_width = “300”;
ad_height = “50”;


Sumber: Teropongsenayan

Iklan